Selasa, 03 Januari 2012

Marissa (Bagian 10)

Dua orang petugas keamanan kemudian berkeliling untuk memastikan keberadaannya. Saat tiba di parkir basement, mereka menemukan mesin mobil Luisa masih menyala. Saat mereka melongok lewat kaca jendela, mereka terperanjat. Luisa terkulai di kursinya masih dengan mengenakan sabuk pengaman. Kedua petugas keamanan itu memecahkan kaca untuk mengeluarkan Luisa dari dalam mobil. Bau gas karbon monoksida begitu menyengat. Luisa sudah demikian lemas. Ia meninggal dalam perjalanan menuju rumah sakit.

Aku terdiam lama mendengar tragedi malang yang menimpa kedua sekretaris terbaik yang pernah dimiliki oleh kantor ini. Pak Amran juga tidak berkata apa-apa lagi sampai kami tiba di kantor.

“Capek, ya, Ran?“ Bu Nanik menoleh ke arahku saat aku masuk.

Aku tersenyum. Serius, capek sekali badanku. Kuletakkan ranselku di atas meja. Ada selembar post it warna merah yang dilekatkan di teleponku. Dari Pak Harso, aku diminta datang ke apartemen sebelum magrib. Kulirik jam mejaku, hampir setengah lima.

Aku minta izin Bu Nanik untuk pulang lebih awal. Yang menyenangkan, ternyata Satya tidak berada di tempat karena sedang mengantarkan ibunya untuk kontrol ke dokter internis. Kebetulan sekali. Aku bisa langsung kabur. Maka, aku bergegas menuju Apartemen Satelite. Aku mengira-ngira apa yang akan diberikan Pak Harso padaku kali ini. Mengingat sikapnya yang helpful itu, aku yakin ia memiliki sesuatu untuk dibagi padaku.

Dan memang, keyakinanku menjadi kenyataan. Lelaki itu sudah berada di meja resepsionis, seperti sedang menungguku. Dengan ramah ia menyapaku, menanyakan kabarku dan perkembangan Delia sebelum akhirnya ia menyerahkan sebuah amplop cokelat berukuran folio padaku. Dari alamat yang tertera jelas amplop itu ditujukan pada Delia. Dan pengirimnya adalah Heriandi, Surabaya. Mungkinkah ini paket yang dimaksud dalam SMS itu?

“Barangkali Ibu memerlukan,“ kembali kata-kata itu memberikan sugesti besar padaku karena aku yakin, ada sesuatu yang penting di dalam sini. Sekali lagi, aku berterima kasih sekali  pada lelaki itu.

Dengan tidak sabar kubuka amplop itu di dalam taksi. Saat isinya kukeluarkan, aku terkesiap. Karena aku mendapatkan sepasang buku nikah yang sudah usang, serta sebuah salinan akta kelahiran atas nama Satya Harjo Prayudha. Tetapi, yang lebih mengejutkan lagi adalah baik pada salinan akta kelahiran maupun pada buku nikah itu, nama kedua orang tuanya adalah Harjo Prayudha dan Marissa Subyastuti!

Tiga berkas dokumen itu jatuh ke atas pangkuanku. Tubuhku terasa dingin karena pikiranku menjadi terang sekarang. Aku telah menemukan orang yang kucari selama ini. Sosok yang bersembunyi di balik wajah Delia saat ini juga kemungkinan besar pernah menjadi Nadia. Sesungguhnya, mereka adalah orang yang sama. Marissa.

Itu pula yang mampu menjelaskan mengapa ketiga sekretaris itu memiliki hak istimewa karena mereka adalah orang yang sama. Bagaikan seekor ular yang berganti kulit apabila masanya tiba, maka ular itu akan melepas kulit yang lama dan menjadi ular baru dengan kulit baru yang lebih cerah dan indah. Tapi sejatinya, ular itu tetaplah menjadi ular yang lama dan tua. Analogi ular itu adalah Marissa adanya, dan hanya Pak Yudha saja yang mengetahui rahasianya.

Taksi itu kuminta memutar balik ke rumah sakit. Aku ingat pada foto lama Stasiun Yogya yang tergantung di ruang kerja Pak Yudha, sama dengan foto yang berada di dalam ranselku. Foto itu mengambil fokus pada nama stasiun dan jam di atasnya. Seolah-olah ada sebuah pesan yang ingin disampaikan dengan cukup membaca nama Yogyakarta dan waktu yang ditunjukkannya. Pesan yang harus diingat dengan baik oleh seseorang. Dan aku yakin, orang yang dimaksud itu pastilah Pak Yudha.

Kembali ke rumah sakit, aku menemukan kenyataan bahwa Delia atau siapa pun ia telah dipindahkan ke sal perawatan mental. Sebab, jika ia dijadikan satu area dengan orang-orang sakit pada umumnya, dikhawatirkan tingkahnya akan mengganggu ketenangan yang lain. Dan, di ruang perawatan mental, tidak boleh sembarang orang mengunjunginya. Aku mengirim SMS kepada Satya dan Bu Nanik mengenai perubahan status perawatan itu.

Aku hanya bisa memperhatikan wanita itu dari balik kaca. Kembali aku merunut kisah ke belakang dan mulai mereka-reka kejadian yang mungkin telah terjadi di masa lampau berdasarkan bukti yang kumiliki saat ini.

Bahwa Marissa, terdorong oleh rasa cintanya yang telah membutakan mata hatinya,   rela melakukan apa saja demi mendapatkan Pak Yudha. Padahal, lelaki yang sempat beberapa minggu mampir di Yogya untuk sekadar iseng itu tak pernah serius menanggapinya. Tapi, tidak bagi Marissa. Ia demikian serius dengan cintanya hingga rela menyerahkan jiwa raganya bulat-bulat pada lelaki itu. Ia mengandung, melahirkan, dan menanggung malu yang amat sangat.

Kenekatannya membawanya ke Surabaya, menyusul Pak Yudha setahun kemudian. Betapa hancur rasa hatinya melihat lelaki yang dicintainya ternyata telah menikah dengan seorang perempuan berdarah ningrat, kaya raya, dan sakit-sakitan. Marissa kemudian menyusun rencana agar dirinya dan anak lelakinya bisa masuk ke dalam kehidupan Pak Yudha. Ia mulai mengancam melalui istri lelaki itu, akan membongkar semua rahasia mereka  tanpa ampun.

Pak Yudha, sekalipun seorang lelaki berkategori playboy, sangat mencintai istrinya. Ia tidak mau kehilangan wanita yang mampu memahami jiwa petualangnya itu. Maka, sejak Marissa muncul dengan segala ancamannya, ia bersedia mengikuti permainan wanita itu. Ia menurut untuk mengambil bayi yang seolah-olah berada di panti asuhan itu. Kemudian ia memberinya nama Satya dan mengangkatnya sebagai anak. Di luar dugaannya, ternyata kelak Satya akan menjadi penghibur dan anak kesayangan bagi istrinya yang sakit-sakitan itu.

Setelah kehidupan anaknya terjamin,  Marissa menuntut jaminan tempat tinggal yang nyaman dan pribadi sifatnya. Pak Yudha menuruti. Ia menempatkan Marissa di Apartemen Satelite miliknya sendiri.

Marissa berupaya masuk  makin jauh dalam kehidupan Pak Yudha dengan menjadi sekretaris pribadinya. Dengan segala cara dan upaya ia selalu berusaha menjerat Pak Yudha agar kembali ke dalam pelukannya. Namun,  makin ia berusaha, lelaki itu  makin menjauhinya dengan cara menjalin cinta  di sana-sini bersama beberapa wanita lain yang lebih muda darinya.

Bersambung

Penulis: Shanty Dwiana

Marissa (Bagian 9)

Aku menjadi lemas. Punggungku terasa basah oleh keringat, dan kedua tungkai kakiku gemetaran. Kuperhatikan dengan seksama wajah kesepuluh gadis yang ada di dalam foto itu. Tiga di antaranya sudah pasti menjadi sekretaris perusahaan ini. Tapi, bagaimana Nadia dan Delia bisa melamar pada posisi itu dalam usia yang lebih muda dengan menggunakan ijazah palsu? Siapa yang tidak jujur di sini? Tadinya aku ingin mengonfrontasi Adelia dengan Delia. Tetapi, jelas tidak mungkin, karena yang satu sudah mati, sedangkan yang satunya mulai pikun!  Seandainya aku bisa menemukan Marissa. Tetapi, ia tidak jelas ke mana setelah keluar dari sini belasan tahun yang lalu.

Aku mencoba mengurut melalui billing statement dari kartu kredit yang digunakan oleh Delia. Billing statement itu keluaran dua tahun lalu. Dari merchant yang terbaca di sana adalah ada dari sebuah klinik kecantikan dan pelangsingan ternama di Surabaya. Imago Derma. Transaksi yang dikeluarkan juga cukup besar, hampir Rp11 juta.

Aku mencoba mencari nomor klinik itu melalui operator 108. Setelah mendapatkannya, aku segera menelepon melalui ponsel Delia dengan harapan aku tidak akan ditolak saat aku menanyakan beberapa hal. Seorang pelanggan loyal seperti Delia tidak akan ditolak oleh merchant sebesar itu.

“Selamat siang, Mbak Delia? Aduh... lama nggak ke sini, ya....“ Seperti dugaanku, operatornya langsung kedengaran ramah begitu nomor ponsel Delia muncul di ID-record mereka.

“Siang juga, Mbak... siapa ini?“

“Sisil, Mbak.“

“Eh, Sisil... apa kabar?“

“Baik, suaranya, kok, beda, Mbak? Sakit?“

Aku berdehem, mengiyakan. Lalu aku berlagak menjadi Delia yang sedang kena flu. Menyatakan kehilangan kartu anggota sehingga tidak bisa mengontak terapisku. Perempuan bernama Sisil itu percaya saja, mungkin karena Delia adalah seorang klien besar sehingga harus dilayani dengan baik. Jadi, aku mendapat nomor Dokter Frans Siwabessy darinya. Aku juga menanyakan info terkini seputar perawatan kulit.

“Banyak, sih. Botox, dermabrasi, laser-laser sama chemical, gitu. Cuma yang tindakan bedah, seperti biasa dipegang Dokter Frans di rumahnya.“

“Oh, gitu....Sil, kamu tahu nggak kalau yang bedah sekarang sampai berapa, ya?“  iseng-iseng aku bertanya.

“Tergantung tindakannya, sih. Sekitar Rp20 juta - Rp30 jutaan, Mbak.“

Wow! Luar biasa! Buru-buru aku mencatat nomor yang disebutkan dan segera pamit padanya setelah selesai. Rasanya sekarang  makin menyesakkan dada. Sepertinya aku mulai tahu ke mana arah permasalahan ini akan menuju.

Ada seseorang yang menggunakan nama ketiga orang alumnus ASMADJY untuk kepentingan pribadinya. Dua di antaranya sudah meninggal, yang berarti mempersempit penyelidikan lebih jauh. Ada seseorang yang bersembunyi di dalam tubuh Delia saat ini. Dan aku yakin, seseorang itu telah mengubah wajahnya sedemikian rupa dengan melakukan operasi plastik. Entah di Imago Derma atau di Dokter Frans. Tetapi, untuk apa dan mengapa?

Mbok Nah tiba-tiba muncul di hadapanku. Ia menanyakan apakah aku balik ke kantor atau tidak. Aku baru sadar, hari sudah hampir pukul tiga sore ketika kudengar azan salat Asar. Aku segera salat, setelah itu kembali ke kantor bersama Pak Amran. Lelaki itu sama sekali tidak menanyakan mengapa aku berlama-lama di rumah. Mungkin ia sudah diinstruksikan demikian.

Di jalan aku menelepon Dokter Aulia, barangkali ia mengetahui informasi mengenai Dokter Frans Siwabessy. Ia  mengatakan, dokter itu adalah seorang dokter umum biasa, tetapi istrinya memiliki klinik kecantikan ternama. Dokter Frans adalah konsultan di sana sejak klinik berdiri sekitar 20 tahun lalu.

“Jadi, dia bukan seorang spesialis bedah plastik, Dok?“ tegasku.

“Bukan, aku tahu itu sebab Dokter Frans Siwabessy adalah teman satu angkatan ayahku.“

“Oh, begitu. Pasti, ya, Dok?“

“Ada apa, Ran? Tampaknya ada sesuatu yang begitu mengganggumu?”

“Tidak. Tidak ada apa-apa. Terima kasih atas informasinya.”

Aku terdiam, berusaha merangkai semua jawaban yang kuperoleh hari ini. Aku merasa mulai dekat kepada jawabannya.

“Mbak Rania nggak apa-apa?” Pak Amran melirikku dari spion.

“Oh, saya baik-baik saja. Memang kenapa, Pak?”

“Hmm... Mbak pucat sekali. Apa tadi belum makan?”

Aku tertawa tidak menanggapi perhatiannya.

“Mbak Rania jadi repot, ya, mengurusi Mbak Delia.”

“Ini setengah terpaksa, setengah dipaksa,” aku bergurau menjawabnya.

Pak Amran tertawa. Aku ingat sesuatu.

“Pak, apakah pernah mengantar Delia ke daerah Krembangan?”

Pak Amran kelihatan agak terkejut mendengar pertanyaanku. Tetapi, ia mengiyakan bahwa dirinya pernah mengantar Delia ke sana, tapi itu dulu sekali. Sekitar sebulan setelah ia menggantikan Luisa yang mati.

Yang mengherankan menurut Pak Amran adalah Delia begitu mengenal daerah itu dengan baik. Sangat aneh bagi seseorang yang baru menginjakkan kakinya di Surabaya.

Jawaban itu  makin meyakinkan aku pada sesuatu yang aku takutkan. Sebenarnya, aku sudah mulai bisa menduga apa yang dilakukannya di daerah Krembangan itu. Tapi, aku perlu menggali lebih banyak dari Pak Amran.

“Mengenai Tere, saya dengar dia ditabrak mobil ya, Pak.“

“Wah, itu mengerikan sekali, Mbak. Mbak Tere itu, biarpun  orang kaya, ia sangat merakyat. Kalau makan siang, kami biasa makan di kaki lima depan kantor. Eh, nggak tahu kenapa hari itu dia apes sekali.“ Pak Amran kelihatan menyesal saat menceritakan kejadian beberapa tahun lalu.

Menurutnya, siang itu Tere tidak pergi bersama-sama yang lainnya saat makan siang. Ia harus menerima telepon penting dari seseorang. Saat ia menyusul lima belas menit kemudian, sebuah mobil kijang dengan kecepatan tinggi menabraknya persis di depan warung tempat mereka makan. Tere terpental sampai masuk ke dalam got air, punggungnya patah dan kepalanya  retak. Mobil kijang itu langsung kabur begitu saja.

“Kasihan Mbak Tere, sekarang menjadi cacat dan nggak mau ketemu kami lagi. Mungkin ia merasa marah.“

“Saya bisa mengerti. Kata Bu Nanik, Luisa dan Tere adalah sekretaris yang hebat,“ kupancing ia dengan nama Luisa.

“Bukan hanya hebat, Mbak, tapi juga baik hati. Apalagi Mbak Luisa. Dia itu dermawan dan ringan tangan. Dia  sering liburan ke luar kota. Kalau pulang, kami  semua diberi hadiah. Para pesuruh kantor senang padanya, karena sering diberi tip. Apalagi kalau dia lembur sampai malam-malam.“
Pak Amran menggelengkan kepala dan menghela napasnya dalam-dalam.

“Karena lembur itu juga, kami terlambat menyelamatkan nyawanya.“

Luisa saat itu bekerja keras menyelesaikan laporan akhir bulan karena Pak Yudha sedang ke Singapura untuk menemani istrinya yang menjalani operasi pengangkatan rahim. Petugas keamanan malam itu merasa curiga karena sampai pukul sepuluh malam Luisa belum juga keluar dari kantor, padahal lampu ruangannya sudah padam.

Bersambung

Penulis: Shanty Dwiana

Marissa (Bagian 8)

Aku meminta Pak Amran mengantarku pulang ke rumah. Aku harus segera melakukan scan tiga salinan ijazah dan foto lama yang disimpan Delia di bawah tasnya, dan mengirimkan kepada Ardi. Sambil menunggu proses scanning, aku menyempatkan makan risoles ayam dan minum teh manis. Pak Amran duduk di teras ditemani Mbok Nah sambil minum kopi.

Dalam hati aku sangat penasaran. Apa yang sebenarnya terjadi sehingga Pak Yudha bisa meloloskan sekretaris dengan ijazah fiktif seperti mereka? Apa yang membuat mereka demikian istimewa hingga memperoleh perlakuan khusus? Tinggal di apartemen mewah, gaji besar, kerja asal-asalan dan mengorbankan rekan-rekannya selama belasan tahun! Hebat sekali!

Aku baru akan menelepon ketika Ardi menghubungiku. E-mail-ku sudah sampai. Alhamdulillah, aku bersyukur sekali dengan kemajuan teknologi wireles yang dapat menghubungkan orang di mana saja dan kapan saja tanpa terikat kabel. Ardi berpesan agar aku jangan pergi dulu dari rumah karena ia berada dalam perjalanan menuju rumah Bu Maryam. Aku melihat jam, sudah hampir pukul satu. Pas waktunya makan siang.

Sekitar lima belas menit kemudian, ada SMS Ardi yang memintaku menghubungi sebuah nomor telepon rumah di Yogya. Kubawa laptop, berkas-berkas Delia  dan catatanku ke ruang tengah. Adrenalinku mulai naik. Ini pasti akan sangat menarik. Kutekan nomor sesuai yang di-SMS Ardi padaku. Ia langsung menyambar telepon begitu nada kedua masuk.

“Ran, ini Bu Maryam, kau bicara sendiri padanya sementara aku akan membuka file-nya.”

“Thanks sekali, Ar.”

Perutku terasa kaku sekarang menunggu perpindahan dari Ardi ke Bu Maryam. Sesaat kemudian kudengar sebuah suara lembut.

“Assalamu’alaikum, Bu Maryam? Saya Rania...,“  aku memperkenalkan diri. Sepatah dua patah kata basa-basi mengawali percakapan yang segera mengalir di antara kami. Beberapa saat kemudian, aku merasa dipaku pada sofa yang kududuki setelah mendengar informasi mengangetkan yang diberikan oleh Bu Maryam.

Ia mengatakan seperti yang diceritakan Ardi beberapa jam sebelumnya. Saat aku minta ia menunjukkan nama-nama dalam foto yang kukirimkan ke Ardi lewat e-mail, dengan lancar ia menyebutkan nama kesepuluh gadis yang berpose di sana. Aku mengikutinya dengan memberi tanda pada foto yang kupegang dengan pensil. Nama-nama yang kukenal: Marissa Subyastuti dan Nadia Rahmadhanti berada di sana sebagai dua orang gadis yang sedang duduk sambil merangkul satu sama lain.

“Delia Sumarno itu nama aslinya Adelia Prabawati, kemudian menikah dengan pilot bernama Teguh Sumarno. Yang pakai kacamata itu orangnya, Mbak.”

Keterangan itu membuatku meradang. Gadis berkacamata yang tampak lugu dan sederhana sedang duduk paling kiri pada foto di warung lesehan gudeg itu. Aku jadi  makin puyeng.

“Apakah Ibu memiliki alamat Adelia saat ini?” 

“Sayang sekali tidak, Mbak. Adelia sudah meninggal 20 tahun yang lalu karena kanker dan dimakamkan di Temanggung.” Jawabannya membuatku terbelalak.

“Kalau Nadia?” kejarku kemudian.

“Nadia malah sudah meninggal lebih dulu, setahun setelah kami lulus. Beliau dan bayi yang gagal dilahirkannya.”

Makin lama  makin aneh, tapi terus terang menjadi menarik sekali.

“Bagaimana dengan Marissa, Bu?“

Bu Maryam tertawa, kedengarannya tidak enak di telinga.

“Ia agak aneh orangnya. Pendiam, tapi sering gonta-ganti pacar. Waktu Nadia wafat, ia datang sambil membawa bayi laki-laki yang baru berumur 40 hari. Kami sempat menegurnya karena tidak baik membawa bayi ke tempat orang mati. Kabarnya, ia menyusul kekasihnya ke Surabaya. Setelah itu, saya tidak tahu bagaimana kabarnya.“

Aku merasakan peningkatan adrenalin dalam tubuhku.

“Maaf, Bu. Apakah Ibu mengetahui seperti apa kekasih Marissa itu?”

“Wah, saya tidak tahu, Mbak. Kabarnya lelaki itu sudah berkeluarga.”

“Oh, begitu. Maaf, Bu, barangkali Ibu masih ingat, apakah Marissa, Nadia dan Adelia lahir pada tanggal 5 Juni?”

“Saya nggak yakin benar, tapi rasanya mereka tidak lahir di tanggal yang sama. Karena, kalau ada yang ulang tahun bersamaan, pasti traktirannya besar-besaran. Nah, pas di gudeg itu kami sedang merayakan ulang tahunnya Marissa.”

Cukup sudah bagiku keterangannya dan aku sangat berterima kasih pada Bu Maryam. Suara Ardi kembali berada di ujung telepon.

“Bagaimana, Ran? Kamu sudah puas kan sekarang?”

“Terima kasih banyak atas bantuanmu,  Ar. Sungguh-sungguh membantu.“

Ardi tertawa di ujung sana.

“Kau  utang padaku, bebek goreng kayu tangan dan rawon setan.”

“Anything, Bos. Anything,” kukutip kata-katanya dulu.

Bersambung

Penulis: Shanty Dwiana

Marissa (Bagian 7)

Aku terenyak di hadapan dokter yang menjelaskan panjang lebar mengenai penyakit Delia. Seandainya tidak ada bunyi telepon masuk, mungkin ceramah dokter itu masih terus berlanjut dan membuatku makin bingung.

Dari Ardi. Dokter Aulia menyilakan aku untuk menerima telepon itu. “Ya, Ar? Sudah baca e-mail-ku?”
Kudengar tawa Ardi jauh di sana.

“Jam dua malam? Kau sama gilanya dengan kakakmu ya!”

“Sudahlah... ada info yang bisa kudapat?“

Ia menghela napas dalam-dalam.

“Kebetulan aku lagi di Yogya, sudah cari info sejak pagi tadi. Buruk, Ran.“ Ia terdiam sejenak, membuatku menjadi mulas oleh rasa tegang.

“Akademi Sekretaris dan Manajemen Dharma Jaya Yogya memang pernah ada, tapi itu jadul banget. Menurut cerita, sebenarnya sekolahnya cukup baik, tetapi ada konflik di yayasannya sehingga akhirnya ditutup pada awal ’80-an. Mereka hanya sempat meluluskan satu angkatan saja.“

Satu angkatan? Ini mengejutkan, karena pada ijazah Nadia dan Delia dinyatakan lulus namun berdasarkan tahun kelulusan yang berbeda.

“Kau yakin?“

“Seribu persen. Aku mendapat info ini dari salah seorang agen besar kita, Bu Maryam. Beliau asli sini dan tahu seluk-beluk sekolah itu karena menjadi salah satu almamaternya.“

Perutku terasa kaku.  Ada yang salah dengan ketiga sekretaris itu.

“Ar, aku akan kirim beberapa file padamu siang ini dan tolong dikonfirmasikan ke Bu Maryam segera. Kuharap malam ini sudah ada report-nya,“

“Tapi, aku harus balik ke Semarang siang ini.“

“Ar, please... jangan khawatir, nanti aku yang bilang ke Satya.“

Ardi tertawa, “Anything, Bos. Anything!“

Kututup ponselku dengan perasaan mengambang. Aku merasa tidak yakin dengan apa yang sedang kami hadapi sekarang. Dokter Aulia memandangiku. Sepertinya ia sedang memikirkan apa yang barusan aku bicarakan dengan Ardi. Baru saja ia akan membuka mulutnya, tiba-tiba telepon ruangan berdering. Mengabarkan bahwa Delia mulai berulah lagi. Kami bergegas kembali ke ruangan di mana Delia dirawat.

Saat itu, aku melihat sendiri bagaimana Delia berteriak-teriak sembari mencakar-cakar wajahnya. Aku menjadi ngeri bagaimana kukunya yang panjang itu membuat bilur-bilur merah di wajahnya. Dua orang suster yang memeganginya tampak kewalahan. Dokter Aulia memintanya menenangkan diri namun sepertinya sia-sia saja. Aku tidak heran saat mereka memberikan obat penenang padanya agar bisa diam.

Delia terkapar di atas kasurnya dengan lemah, mataya memandang liar ke sana sini. Keringat bercampur dengan darah dari bilur cakaran pada wajahnya menimbulkan kesan menyeramkan. Ia sama sekali tidak kelihatan kesakitan, malah seperti sedang kebingungan. Melupakan bagaimana menyebalkan sikapnya dulu, aku menjadi kasihan melihatnya seperti itu.

Kusentuh bahunya. Ya, ampun, aku baru sadar, jariku menyentuh tulang. Delia begitu kurus dari balik baju rumah sakitnya yang kedodoran. Rambutnya berantakan. Tanpa make up tebal, dia benar-benar seperti orang aneh. Kutelan ludahku yang terasa pahit.

“Del…,” kupanggil namanya.

Delia memandangiku seperti sedang mencari sesuatu pada diriku. Aku sampai merinding karena ngeri dipandangi serupa itu. Aku berharap ia memberikan satu dua patah kata sebagai respons. Tetapi, aku harus kecewa. Delia tidak menghiraukanku. Ia tidak mengenaliku.

“Del… ini aku, Rania. Ingat? Katakan sesuatu....“

Delia menggeleng lemah.

“Cermin… mana cermin… aku ingin pulang. Mana cermin… cermin… aku mau pulang….” Itu saja yang diucapkannya terus-menerus sampai suaranya kemudian makin lama  makin lemah. Kepalanya terkulai ke kiri. Ia tidur.

Aku menghela napas dalam-dalam. Dokter Aulia memeriksa denyut nadi Delia, lalu dadanya. Kemudian ia mengatakan sesuatu pada perawat yang mencatat dengan cepat di sebelahnya. Dokter Aulia menoleh padaku.

“Ayo, kutunjukkan sesuatu yang menarik padamu!“ Ia memintaku untuk mendekat ke arahnya. Perawat tadi menggeserkan tubuhnya, memberikanku tempat di sisi Dokter Aulia yang kini mengangkat dagu Delia ke atas. Kami bisa melihat lehernya sekarang.

“Perhatikan kulitnya ini. Kisut, berkerut, dan kendur. Berbeda dari kulit wajahnya yang masih cukup halus.“

Aku tidak pernah memperhatikannya karena Delia selalu mengenakan blus model turtle neck atau scarf sutra yang menutupi lehernya.

Dokter Aulia kemudian memiringkan wajah Delia ke sisi kiri, menyibakkan rambutnya ke atas sehingga kami bisa melihat telinganya. Ada bekas jahitan di belakang telinganya melingkar rapi sepanjang bagian dalam belakang telinga. Dokter Aulia memiringkan sisi kepala yang lain dan menunjukkan bekas jahitan yang sama di telinga itu. Ia kemudian meraba pipi Delia, menekan-nekannya sedikit, lalu menyisir garis rahang dan tulang hidungnya.

“Implan silikon.“ Itu adalah komentar yang sangat mengejutkanku.

Aku mencoba mencerna dari apa yang kusaksikan sekarang. Itulah mengapa pipinya jadi seperti menggantung. Jika Delia sedikit berisi, maka pipinya akan terangkat dan kelihatan bagus. Oh, pantas saja.

Dokter Aulia mengajakku keluar dari ruang perawatan Delia.

“Saya hanya ingin memberitahumu satu hal, Rania.“ Dokter itu menatapku.

“Ada indikasi Delia sudah menjalani operasi plastik, sepertinya lebih dari sekali. Jadi, kau mungkin akan kesulitan untuk mencari wajah aslinya seperti apa.”

Aku terenyak. Aku tahu ini buruk, tapi tidak pernah membayangkan separah ini. Aku terhuyung ke samping dengan pandangan berkunang-kunang. Dokter itu menangkap tanganku dengan cepat.

“Kau baik-baik saja?“ tanyanya.

Setelah semuanya menjadi terang kembali, aku mengangguk sambil melepaskan cekalannya. Aku hanya belum makan, sejak semalam aku begadang dan sampai sekarang belum beristirahat sama sekali. Ditambah dengan kejutan demi kejutan yang membuat semangatku makin merosot saja.

“Saya baik-baik saja, Dok. Terima kasih. Maaf, saya harus bergegas untuk menyelesaikan banyak masalah.“ Kedengarannya sombong sekali, tapi aku memang harus segera pergi dari tempat ini.

Bersambung

Penulis: Shanty Dwiana

Marissa (Bagian 6)

Aku berdoa semoga ponsel itu tidak dimatikan. Sebab, aku tahu beberapa kasus yang berhubungan dengan kerahasiaan selalu menonaktifkan ponsel mereka agar tidak cepat terlacak. Tapi untungnya tidak. Aku mendengar nada tunggu berupa kicauan burung yang lumayan merdu sebelum akhirnya diangkat oleh seorang lelaki bersuara cempreng.

“Selamat siang, Pak Jono. Saya Diana dari Asuransi….“

“Salah sambung!” sebuah jawaban yang ketus terdengar, kemudian telepon ditutup dengan kasar.  Aku tidak menyerah, kutelepon lagi nomor itu.

“Maaf, Pak Jono tadi terputus. Aplikasinya mau dikirim ke Kaliasin, Pak atau…?” dengan asal aku menyebutkan alamat yang segera dipotong orang itu.

“Mbak, dengar, ya… saya ini Heriandi. Bukan Pak Jono!”

“Ini Kaliasin lima satu ?”

“Bukan, Krembangan!” lalu mati.

Jantungku deg-degan. Heriandi. Nama yang sama tertera pada tiga tanda terima Delia. Aku langsung menutup telepon itu. Buru-buru aku keluar dari sana setelah membayar ongkos telepon. Aku kembali ke mobil dengan semangat yang naik karena setidaknya ada seorang yang ‘nyata’ dalam masalah ini. Pertanyaannya adalah apa yang dikerjakan lelaki itu untuk Delia sehingga ia mematok upah begitu tinggi?

Sampai di rumah sakit, aku masih harus menunggu Dokter Aulia yang masih melakukan visit pasien. Aku mengunjungi Delia di kamarnya diantar oleh seorang perawat. Aku melihatnya duduk di atas tempat tidur. Ia tengah berkaca pada sebuah cermin berbingkai plastik murahan yang mungkin dipinjamkan oleh salah seorang perawat.

Delia menyentuh pipi, hidung, dan bibirnya. Ia memiringkan kepalanya ke kiri dan kanan seperti sedang mempertimbangkan sesuatu. Sorot matanya kosong ke arah cermin, seakan-akan ia tidak melihat bayangan siapa pun di sana. Rambutnya yang kusut masai makin memperparah penampilannya yang menurutku tiba-tiba menjadi sangat aneh. Pipinya kelihatan menggantung pada wajahnya yang tirus. Tubuhnya juga begitu kurus seperti penderita kurang gizi.

“Halo, Del,” kusapa dirinya.

Delia tidak menanggapiku. Ia kembali memiringkan kepalanya ke kiri dan kanan. Sesekali menyentuh kening dan pipinya dengan telunjuknya yang kurus.

“Delia, ini aku, Rania. Kau ingat?“

Ia kembali tidak menghiraukanku. Perawat yang datang bersamaku mengajakku keluar dari sana dan memberikan keterangan bahwa Delia sudah berkelakuan begitu sejak tadi malam. Mereka memperkirakan ia menderita depresi berat. Aduh, mengapa menjadi makin rumit saja masalah ini? Bagaimana jika aku tidak berhasil menemukan keluarganya?

Dokter Aulia datang setengah jam kemudian. Aku diajak ke ruangannya untuk membicarakan masalah kesehatan Delia. Dokter itu menyilakanku duduk di hadapannya, sementara ia membuka-buka file di hadapannya, mencari data Delia. Aku memperhatikan beberapa sertifikat digantung dengan rapi pada dinding berlapis wallpaper bermotif bunga warna kuning dan merah muda dengan dasar hijau muda.

“Sudah bisa menemukan keluarganya?“ itulah yang pertama kali ditanyakannya padaku. Membuat perutku sebah saja. Aku menggeleng.

Dokter Aulia mengetukkan jarinya pada kaca meja dengan cepat.

“Saya harus menyampaikan kalau kondisi Ibu Delia tidaklah baik. Hasil labnya buruk. Gula darahnya lebih dari empat ratus. SGOT-nya tinggi dan saya khawatir paru-parunya juga kena, jadi tadi pagi kami rontgen. Ada indikasi anoreksia juga. Apakah ia melakukan diet ketat selama ini?“

Kugelengkan kepalaku. Pusing oleh kenyataan kalau Delia begitu bermasalah. Aku mengeluarkan blister obat dan fotokopi resep dari dalam tasku, lalu menyerahkan kepada Dokter Aulia. Lelaki itu mengerutkan alisnya.

“Apa ada yang salah, Dok?“ aku merasa jauh dari harapan.

“Dari mana kau peroleh ini?“

Kuceritakan dengan singkat penemuanku kemarin di kamar Delia.

“Resep ini benar, dokter yang mengeluarkan juga benar. Tetapi tidak boleh menebusnya dengan menggunakan salinan resep, apalagi fotokopi.”

Bagaimana aku tahu kalau Delia sudah begitu menyalahi aturan?  Dokter Aulia tersenyum. Mungkin ia bisa merasakan kegundahan hatiku.

“Kau mungkin akan terkejut jika mendengar fungsi Exelon.“

Kejutan lain apa yang bisa membuat hariku bertambah buram?

“Exelon adalah obat yang digunakan sebagai terapi Alzheimer.“

Aku terperangah. Alzheimer? Pikun? Delia? Aku menatapnya kaget.

“Mana mungkin? Delia baru berumur tiga puluhan!“ seruku tidak percaya.

Dokter Aulia mengangguk. “Walau jarang terjadi, kasus Alzheimer dapat terjadi di usia tiga puluh limaan. Jadi mungkin saja Delia mengalaminya. Itu pula yang menjelaskan mengapa ia terserang anoreksia karena salah satu efek pemakaian obat ini adalah menurunkan nafsu makan.“

Bersambung

Penulis: Shanty Dwiana

Marissa (Bagian 5)

Wajah Bu Nanik tidak kelihatan heran melihatku sudah duduk di mejaku pada pukul 7.30 keesokan harinya. Aku sendiri sudah berada di sana sejak setengah jam lalu. Terus terang, semalaman aku tidak bisa tidur dengan nyenyak karena penasaran. Aku perlu datang pagi ke kantor hanya untuk meminta izin Bu Nanik membuka file para sekretaris.

Dengan cepat aku memeriksa berkas-berkas yang tersusun rapi berdasarkan abjad yang segera kucabut dari tempatnya. Marissa, Nadia, Tere, Luisa, dan Delia sendiri. Kelimanya kubawa ke ruanganku agar bisa menghirup udara bersih   dari AC berteknologi nano itu.

Tanpa menghiraukan Bu Nanik, aku mulai membuka berkas-berkas itu satu per satu. Dimulai dari Marissa Subyastuti. Lahir di Yogya, 5 Juni 1959. Lulus ASMADJY tahun 1979. Bergabung dengan perusahaan sejak 1982 – 1988. Keluar atas permintaan sendiri. Alamat terakhir di Apartemen Satelite Surabaya.

Theresia Susanti, lahir di Tabing, 15 April 1964. Lulusan YASMI Medan tahun 1986. Bergabung dengan perusahaan sejak tahun 1988 – 1990. Mengundurkan diri setelah mengalami kecelakaan pada September 1990. Alamat terakhir di Perumahan Griya Kencana D/16 Surabaya.

Kemudian Nadia Rahmadhanti. Lahir di Yogya, 5 Juni 1968. Lulusan ASMADJY tahun 1989. Bergabung dengan perusahaan sejak 1990 – 1998. Ia mengundurkan diri untuk menikah. Alamat terakhir yang tercatat, Apartemen Satelite Surabaya.

Yang keempat adalah Luisa Sanjaya, lahir di Pontianak 8 Agustus 1967. Lulusan Lembaga Pendidikan Profesi Surabaya ( LP2S ). Bergabung sejak 1998 – 2001. Kariernya berakhir saat ia meninggal akibat keracunan gas karbondioksida dari mobilnya sendiri. Ada kliping obituarinya pada sebuah koran tanggal 30 Maret 2001. Ia dikremasikan di sebuah krematorium di daerah Malang.

Terakhir, Delia Sumarno. Lahir di Yogya, 5 Juni 1976. Lulusan ASMADJY tahun 1999. Bergabung sejak 2001 sampai sekarang. Apartemen Satelite menjadi tempat tinggalnya dan tidak ada keterangan lain.

Kuluruskan punggungku sambil memikirkan berbagai kebetulan yang kudapati dari data di tanganku ini. Bahwa Marissa, Nadia, dan Delia tinggal di apartemen yang sama, bersekolah di tempat yang sama dan mereka memiliki tanggal lahir yang sama, yaitu 5 Juni. Hanya saja berbeda tahun. Hebat sekali. Jadi, mereka berada dalam naungan bintang yang sama, dan mungkin juga memiliki sifat atau karakter yang sama pula. Betapa sebuah kebetulan!

Bunyi nada panggil dari ponsel mengejutkan kami berdua. Bu Nanik menggeleng setelah memeriksa ponselnya. Aku pun tidak merasa bunyi itu berasal dari ponselku karena nadanya berbeda. Lalu dari ponsel siapa karena kami hanya berdua di ruangan ini? Aku jadi ingat. Ponsel Delia! Aku membawanya di dalam ransel!

Buru-buru kubuka komunikatornya dan berharap ada sebuah informasi baru yang dapat kuperoleh. Ternyata sebuah SMS masuk dari nomor yang tidak terdaftar. Isi pesannya sederhana:
Paket sudah dikirim. Harga TO baru 15 juta.

Aku terdiam dan mulai berpikir. Paket apa dan dari siapa? TO itu apa? Target operasi? Kututup ponsel itu dan kembali ke berkas lima sekretaris yang aneh ini.

Aku mengamati Bu Nanik yang masih memproses data gaji pegawai.

“Bu, maaf mengganggu sebentar.“

“Nggak apa-apa, mau tanya apa, Ran?“ ia menjawabku tanpa menoleh.

Kemudian aku menanyakan seputar keanehan tiga sekretaris Pak Yudha yang berasal dari sekolah yang sama, dan tinggal di tempat yang sama. Kecuali Tere dan Luisa. Bu Nanik mengatakan, mereka bertiga memang direkomendasikan Pak Yudha. Bahkan tinggal di apartemen milik pribadinya.

“Saya memeriksa di internet semalaman, ASMADJY -sekolah para sekretaris itu-  tidak ada datanya.“

Baru sekarang kulihat perubahan dari Bu Nanik. wanita itu duduk menegak di kursinya untuk beberapa saat lamanya seperti sedang memikirkan sesuatu.

Dulu ia adalah staf personalia yang terpaksa mengerjakan tugas-tugas sekretaris bagi Pak Yudha untuk sekian belas tahun lamanya. Itu dikarenakan Marissa, Nadia, dan Delia tidak pernah melakukan tugasnya dengan baik. Mereka lebih sibuk mencari perhatian bos yang flamboyan itu. Hanya Tere dan Luisa yang benar-benar menjalankan tugasnya dengan benar. Sayangnya, mereka tidak bertahan lama.

“Sekalipun Pak Yudha tahu betapa menyebalkannya mereka, beliau tidak pernah menegur ketiganya.” Gerutuannya membuatku tercengang. ”Sebenarnya kau direkrut untuk menggantikan Delia. Pak Satya sudah tidak tahan bekerja dengannya,  tidak seperti ayahnya.”

“Tapi, lama-kelamaan, aku merasa dibodohi oleh wanita-wanita itu,“ lanjutnya, masam.

Aku merasa tidak enak dengan semua ini.

“Mengenai akademi itu, Bu Nanik tidak pernah memeriksanya?“

Wanita itu menggeleng, ia kembali memunggungiku. Mengerjakan proses cetak slip gaji untuk seratus orang karyawan di sini. Aku menghela napas. “Tere mengalami kecelakaan apa?“

“Dia ditabrak mobil saat keluar dari kantor untuk makan siang. Penabraknya tidak pernah ditemukan. Kabarnya ia lumpuh sekarang.“ Ada kegetiran dalam suaranya yang membuatnya terdiam.

Kalau memang demikian adanya, maka aku memang tidak perlu menemuinya. Kehadiranku bisa jadi melukai perasaannya karena harus mengingat pengalaman terburuk dalam hidupnya. Makin ruwet saja masalah Delia ini. Sebaiknya aku segera keluar dari tempat ini. Aku khawatir bertemu dengan Satya yang akan menanyakan progres pekerjaanku.

Pak Amran,  sopir perusahaan kami,  sudah siap mengantarku ke rumah sakit. Rupanya ia mendapat perintah langsung dari Satya untuk membantuku menyelesaikan masalah ini. Kembali aku mendengar nada SMS dari ponsel Delia. Aku membukanya, dari nomor yang tadi.
Mana profil TO baru? Cepat balas.

Aq byk order.

Aku penasaran dengan orang ini, karena begitu bersemangat mengejar Delia. Ia pasti memiliki sesuatu yang bisa berguna. Aku minta berhenti pada sebuah wartel saat kami melintas di daerah Praban. Aku ingin tahu, dengan siapa sebenarnya Delia berhubungan.

Bersambung

Penulis: Shanty Dwiana

Marissa (Bagian 4)

Kami tiba di depan rumahku pada pukul 21.30. Mbok Nah, pembantuku, segera berdiri dari duduknya di teras. Ia sedang menungguku. Hanya Mbok Nah yang tinggal bersamaku sekarang setelah Mama tiada. Sedang kedua abangku hidup dengan keluarganya masing-masing di Jakarta dan Makassar.

Satya menyapa Mbok Nah dengan ramah saat kami masuk membawakan pekerjaan rumahku ke dalam. Ia memang sudah akrab dengan wanita tua yang sudah seperti keluargaku sendiri sejak belasan tahun yang lalu. Mbok Nah rupanya sudah membuatkan jamu kunir asem untuknya. Menurut ibuku dulu, Satya kecil sempat sakit-sakitan. Ia bisa menjadi lebih baik setelah diberi jamu kunir asem buatan Mbok Nah.

“Sebaiknya kau tinggal dengan Mama saja, Ran. Jangan sendirian di sini,“ Satya memandang berkeliling memperhatikan betapa sepinya rumah kami.

Aku tidak membalas komentarnya itu. Mbok Nah sudah datang membawakan sebotol kunir asem di dalam kantong kresek. Masih kelihatan dingin karena baru keluar dari kulkas. Satya tersenyum kecil. Kelihatan bagus kalau dia sedang tersenyum, sekalipun sedikit aneh. Lebih baik begitu daripada tegang, dan kelihatan harus meledak saja kepada setiap orang.

Aku mulai mengisi ulang baterai ponsel Delia yang kudapat dari tasnya. Sementara menunggu, aku mulai menyalakan laptop-ku sendiri untuk mengecek e-mail. Karena tidak ada yang penting, aku kemudian mengeluarkan kertas-kertas yang dijejalkan begitu saja ke dalam tas.

Kurapikan dan kususun kertas-kertas yang berjumlah sebelas lembar. Menarik sekali karena semua kertas itu sudah berumur lama. Aku segera memilahnya. Tiga lembar kuasumsikan berasal dari kelompok institusi, dua lembar dari kelompok medis, tiga lembar lainnya adalah billing statement kartu kredit, dua lembar foto, dan empat lembar tanda terima dari Bpk. Heriandi masing-masing antara Rp5 juta - Rp10 juta.

Dua lembar dari kelompok medis adalah hasil sebuah laboratorium terkenal di Surabaya, dan yang lainnya adalah fotokopi sebuah resep dari seorang dokter ahli saraf di kawasan Gubeng, Surabaya. Aku bisa membaca tulisan Exelon di situ, sama dengan bekas blister obat yang diberikan Pak Harso. Resep itu dibuat beberapa  bulan yang lalu.

Aku beralih pada tiga lembar berkas lain yang sudah kusam kekuningan. Semuanya adalah salinan ijazah dari Akademi Sekretaris dan Manajemen Dharma Jaya Yogyakarta dalam kurung ASMADJY. Menilik dari tanggal kelulusannya, sungguh luar biasa. Angkatan delapan puluhan! Yang lebih hebat lagi, dua dari tiga nama yang tercetak pada fotokopi salinan ijazah itu cukup kukenal, setidaknya dari nama depan mereka. Marissa Subyastuti dan Nadia Rahmadhanti. Nama-nama mantan sekretaris Pak Yudha dulu.

Mereka semua disebutkan oleh Pak Harso tadi siang. Dan mereka berasal dari sekolah yang sama. Betapa menakjubkannya, bahwa keduanya bisa berada di tempat yang sama dalam kurun waktu berbeda.

Rasa penasaran membuatku menjelajah di Google, menulis nama akademi yang dimaksud untuk mencari tahu. Sambil menunggu, aku memperhatikan dua lembar foto. Yang satu adalah foto lama dari Stasiun Tugu Yogyakarta. Aku mendadak ingat, foto yang sama juga tergantung di ruang kerja Pak Yudha. Sungguh sebuah kebetulan berikutnya.

Sedang yang lainnya adalah juga sebuah foto lama. Foto sekelompok wanita yang tengah berpose pada sebuah lesehan makan di kaki lima. Kuperkirakan tempat itu berada di Yogya juga. Pada spanduk yang menempel di belakang tempat makan  kaki lima itu tertulis: ’Goedeg Toegoe Jogja’.
Tetapi, buat apa Delia mengumpulkan foto-foto dan salinan ijazah lama? Kuangkat kepalaku karena leherku menjadi demikian kaku. Kembali ke monitor dan aku kecewa. Pencarian atas nama akademi itu tidak berhasil. Kuketik nama ASMADJY untuk dijelajah. Kembali gagal. Aku makin penasaran. Apakah sekolah itu pernah ada atau tidak, ya? Kuketik Dharma Jaya. Yang keluar ternyata nama kelenteng, merek bakso, dan nama sebuah yayasan sosial yang setelah kutelusuri ternyata milik perkumpulan etnis keturunan Cina.

Kok, jadi butek begini, ya? Kalau aku gagal mendapatkan sebuah petunjuk, maka Delia akan mengacau hidupku lebih lama lagi. Kuhirup teh manisku yang sudah dingin.  Mbok Nah kedengaran mendengkur halus dari atas dipan. Siaran teve masih menyala dan kubiarkan saja. Jika kumatikan, maka ia akan segera terjaga. Aku sudah tahu kebiasaannya itu.

Satu-satunya harapanku adalah pada ponselnya. Dari jenis smartphone yang cukup andal dan yang pasti mahal harganya. Beruntung pin pembukanya standar saja, 1234, jadi aku bisa masuk ke dalamnya. Yang lebih mengherankan, aku hanya menemukan lima nama dalam phonebook-nya. Untuk seorang sekretaris yang seharusnya  memiliki jaringan luas, Delia benar-benar payah.  Kelima nama itu adalah nomor Pak Yudha, Bu Yudha, Satya, Bu Nanik,  dan aku, Rania.  Aneh juga, seorang staf biasa seperti aku bisa masuk ke dalam lima besar orang yang patut dicatatnya.

Lelah menjelajah dan menerka-nerka menyadarkan aku pada waktu yang sudah sangat larut, pukul 01.45.  Akhirnya kuputuskan untuk menulis e-mail pada Ardi, sales manager di wilayah Yogya dan Semarang, untuk melacak keberadaan sekolah itu sebelum aku tidur. Aku berharap, Ardi bisa memberikan jawaban dengan segera.

Bersambung

Penulis: Shanty Dwiana